Home arrow Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan
STRABISMUS Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Apa itu STRABISMUS ??

Strabismus atau mata juling adalah suatu kondisi dimana kedua mata tampak tidak searah atau memandang pada dua titik yang berbeda.

Dalam keadaan normal, kedua mata kita bekerja sama dalam memandang suatu obyek. Otak akan memadukan kedua gambar yang dilihat oleh kedua mata tersebut menjadi satu gambaran tiga dimensi yang memberikan persepsi jarak, ukuran dan kedalaman (depth perception).

Ada beberapa jenis strabismus yang bisa kita amati langsung dengan meminta pasien memandang lurus ke depan. Ketika satu mata memandang lurus ke depan maka mata sebelahnya dapat saja memandang ke dalam (esotropia), ke luar (exotropia), ke bawah (hipotropia) atau ke atas (hipertropia). Ini terjadi sekitar 2% pada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan.

Kenapa Mata Juling Menjadi Masalah?
Ketika kedua mata memandang tidak searah maka akan ada dua gambar yang dikirim ke otak. Pada orang dewasa hal ini menyebabkan timbulnya penglihatan ganda. Pada anak kecil, otak belajar untuk tidak menghiraukan gambaran dari mata yang tidak searah dan hanya melihat dengan menggunakan mata yang normal. Anak kemudian kehilangan persepsi jarak, ukuran dan kedalaman.

Bayi dengan strabismus yang berusia enam bulan atau lebih harus dibawa ke dokter spesialis mata anak-anak/pediatrik untuk menghindari resiko terjadinya ambliopia (menurunnya fungsi penglihatan pada satu atau kedua mata).

Penyebab STRABISMUS


Strabismus dapat disebabkan oleh ketidak-seimbangan tarikan otot yang mengendalikan pergerakan mata, kelumpuhan otot, gangguan persyarafan atau kelainan refraksi yang tidak dikoreksi.
Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang mempunyai riwayat strabismus dalam keluarganya beresiko tinggi menderita strabismus juga.
Seorang dokter spesialis mata anak/pediatrik dapat menentukan sifat strabismus tersebut dan dapat merekomendasikan penanganan yang terbaik.

Bagaimana Mengenali Strabismus?


Sebuah tanda nyata adanya strabismus adalah sebelah mata tidak lurus atau tidak terlihat memandang ke arah yang sama seperti mata sebelahnya. Kadang-kadang anak-anak akan memicingkan/menutup sebelah matanya saat terkena sinar matahari yang terang atau memiringkan kepala mereka agar dapat menggunakan kedua matanya sekaligus.
Anak-anak yang menderita strabismus sejak lahir atau segera sesudahnya, tidak banyak mengeluhkan adanya pandangan ganda. Tetapi anak-anak yang mengeluhkan adanya pandangan ganda harus diperiksa dokter spesialis mata anak dengan seksama. Semua anak seharusnya diperiksa oleh dokter spesialis mata anak sejak dini terutama bila dalam keluarganya ada yang menderita strabismus atau ambliopia.

Bayi dan anak kecil seringkali terlihat juling. Hal ini dapat disebabkan oleh bentuk hidung yang lebar dan rata dengan lipatan kulit kelopak mata yang lebar sehingga membuat mata seakan terlihat tidak searah. Gejala strabismus semu ini akan hilang pada saat anak semakin besar. Seorang dokter spesialis mata anak dapat menjelaskan perbedaan strabismus semu dan strabismus yang sebenarnya.

Penanganan STRABISMUS


Penanganan strabismus dimaksudkan untuk melindungi fungsi penglihatan dan meluruskan mata. Semua penanganan ini dapat ditentukan oleh dokter spesialis mata sesudah memeriksa mata anak tersebut.
Jika strabismus disebabkan oleh kelainan refraksi, menggunakan kaca mata untuk menormalkan penglihatan dapat memperbaiki posisi mata.

Penutup Mata
Jika anak menderita strabismus dengan ambliopia, dokter akan merekomendasikan untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata yang normal dengan plester mata khusus (eye patch). Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter. Sesudah berusia 8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik berkembang sebelum usia 8 tahun. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter spesialis mata secara berkala untuk mengetahui apakah penglihatan binokuler-nya sudah terbentuk seutuhnya. Penutup mata tidak meluruskan mata secara kosmetik.

Operasi
Operasi otot yang mengontrol pergerakan mata sering dilakukan agar mata kelihatan lurus. Kadang-kadang sebelum tindakan operasi, anak diberi kaca mata atau penutup mata untuk mendapatkan penglihatan yang terbaik. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter spesialis mata sesudah operasi untuk mengetahui perkembangan dan melanjutkan perawatan. Kadangkala untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna diperlukan lebih dari satu kali tindakan operasi.

Informasi ini hanya untuk gambaran umum. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi dokter spesialis mata kami. RS Mata "Dr. Yap" Jl. Cik Di Tiro No.5, Telp. (0274) 547 448, 562054.

 
KONJUNGTIVITIS Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

KONJUNGTIVITIS

Konjungtivitis adalah suatu peradangan atau infeksi selaput transparan yang berada di permukaan dalam kelopak mata dan yang mengelilingi bola mata bagian luar. Bila pembuluh darah halus yang berada dalam konjunctiva meradang, maka pembuluh darah ini akan nampak. Itulah sebabnya mengapa bola mata yang berwarna putih menunjukkan warna merah (mata merah). Meskipun mata merah ini mengalami iritasi, hal ini jarang mempengaruhi penglihatan. Pengobatan yang diberikan dapat menghilangkan rasa tidak nyaman pada mata merah ini. Oleh karena mata merah ini dapat menular kepada mata orang lain, maka diagnosis dini dan pengobatan dapat mengurangi penyebaran mata merah. Mata merah dapat disebabkan oleh adanya infeksi dengan virus, bakteri, zat kimia, benda asing atau reaksi alergi. Orang yang memakai lensa kontak harus berhenti memakainya segera setelah menunjukkan  gejala awal mata merah ini.

GEJALA

Mata merah memperlihatkan adanya:

  1. Kemerahan pada satu mata atau kedua mata;
  2. Rasa gatal pada satu mata atau kedua mata;
  3. Rasa mengganjal pada satu mata atau kedua mata;
  4. Pengeluaran kotoran mata dari satu mata atau kedua mata yang dapat membentuk kerak pada malam hari sehingga pada pagi pagi hari kelopak mata tidak dapat dibuka;
  5. Pengeluaran air mata;
  6. Reflex pupil (anak mata) masih normal;
  7. Ketajaman penglihatan masih normal.

 

Mata merah harus segera diobati. Mata merah dapat menular kepada orang lain selama 2 minggu setelah dimulai adanya gejala-gejala. Diagnosis dini dan pengobatan secepatnya dapat melindungi penularan terhadap orang lain.

PENYEBAB

Penyebab mata merah adalah:

  • Virus,
  • Bakteri,
  • Alergi,
  • Zat Kimia,
  • Benda asing,
  • Saluran air mata yang tersumbat (pada bayi baru lahir).

 

Konjungtivitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri dapat menyerang satu atau dua mata sekaligus. Konjungtivitis virus biasanya menghasilkan kotoran mata yang berbentuk cair. Konjungtivitis bakteri sering menghasilkan kotoran mata yang lebih kental dan berwarna kuning kehijauan.

Kedua jenis konjungtivitis ini dapat terjadi bersamaan dengan flu atau dengan gejala saluran pennafasan, seperti nyeri tenggorokan. Kedua konjungtivitis ini sangat menular. Penyakit ini menyebar secara langsung atau tidak langsung setelah bersentuhan dengan kotoran mata penderita. Penyakit ini dapat menyerang segala usia, baik anak-anak maupun dewasa. Namun konjungtivitis bakteri lebih sering terjadi pada penderita anak-anak.

Konjuntivitis yang disebabkan oleh alergi dapat mengenai kedua mata sebagai respon adanya reaksi alergi terhadap serbuk sari bunga. Sebagai respon terhadap benda penyebab alergi (alergen), tubuh akan membentuk zat kekebalan (antibodi) yang disebut sebagai Imunoglobulin E (IgE). Zat kekebalan ini akan merangsang sel yang ada dalam selaput lendir mata dan saluran nafas untuk melepaskan zat penyebab peradangan termasuk zat Histamin.

Bila terdapat keadaan konjungtivitis alergi, maka akan timbul gejala rasa gatal, pengeluaran air mata, mata yang meradang, bersin dan hidung berlendir pada penderita. Pada umumnya, konjungtivitis alergi dapat diatasi dengan pemberian obat tetes mata yang mengandung obat anti alergi.

Bagi konjungtivitis akibat iritasi, biasanya disebabkan oleh zat kimia atau benda asing (debu, dan lain-lain). Usaha untuk membersihkan benda asing atau zat kimia ini menyebabkan mata menjadi merah dan mengalami iritasi. Keadaan ini memberikan gejala pengeluaran air mata, yang biasanya akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu 1 hari.

Faktor-faktor resiko terjadinya konjungtivitis, antara lain:

  1. Bersentuhan dengan benda yang menyebabkan alergi;
  2. Bersentuhan dengan penderita konjungtivitis virus dan bakteri;
  3. Mengunakan lensa kontak, sehingga mata dapat memberikan reaksi peradangan mata.

 

PENGOBATAN

Anjuran yang mesti dilakukan sebelum berobat ke dokter:

  1. Stop menggunakan lensa kontak;
  2. Cuci tangan sesering mungkin untuk mengurangi kemungkinan penularan kepada orang lain;
  3. Jangan meminjamkan handuk kepada orang lain.

 

Pengobatan Konjungtivitis Virus

Tidak ada obat khusus untuk mengatasi keadaan ini. Penyakit ini sering dimulai dari satu mata dan menyebar ke mata yang lain dalam beberapa hari. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya secara berangsur-angsur. Pemberian obat anti virus mungkin diberikan oleh dokter bila ternyata diketahui penyakit ini disebabkan oleh Herpes zoster virus.

Pengobatan Konjungtivitis Bakteri

Bila penyakit ini disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan pengobatan tetes mata yang mengandung antibiotika. Infeksi akan sembuh dalam beberapa hari. Salep mata antibiotika biasanya diberikan untuk penderita anak-anak. Pemberian Salep mata lebih mudah diberikan kepada anak-anak dari pada pemberian tetes mata. Meskipun demikian, pemberian salep mata akan membuat penglihatan kabur selama 20 menit setelah diberikan.

Pengobatan Konjungtivitis Zat Kimia

Keadaan ini diatasi dengan  pencucian pada larutan larutan ringer laktat atau cairan Garam fisiologis (NaCl 0,8%). Luka karena zat kimia, terutama akibat bahan Alkali, merupakan keadaan gawat darurat karena dapat menimbulkan kecacatan mata dan kerusakan di dalam bola mata. Penderita dengan konjungtivitis zat kimia ini tidak boleh menyentuh mata yang sakit karena dikhawatirkan dapat menyebar ke mata yang lainnya.

Pengobatan Konjungtivitis Alergi

Pada keadaan ini, dapat diberikan bermacam obat untuk mengatasi keadaan alergi penderita, termasuk pemberian obat seperti tablet Anti Histamin, obat untuk mengatasi kedaan peradangan seperti Decongestan, obat steroid dan tetes mata yang mengandung anti peradangan. Penyakit dapat diredakan dengan menghindari penyebab keadaan alergi, bila memungkinkan dan diketahui penyebabnya.

Untuk mengurangi gejala konjungtivitis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan di rumah, seperti:

  1. Berikan kompres kepada mata dengan menggunakan kain bersih yang telah dibasahi dengan air bersih. Bila terdapat mata merah pada satu mata, jangan pergunakan kain itu untuk mengompres mata yang lainnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran mata merah.
  2. Cobalah obat tetes mata. Obat tetes mata yang dijual di toko farmasi (yang disebut tetes mata buatan) dapat mengurangi gejala mata merah. Beberapa tetes mata mengandung Anti histamin atau zat lain yang dapat membantu keadaan konjungtivitis akibat alergi.
  3. Hentikan penggunaan lensa kontak. Bila menggunakan lensa kontak, maka berhentilah dahulu memakainya sebelum mata terasa nyaman kembali. Waktu yang diperlukan untuk melepas lensa konak ini tergantung dari penyebab konjungtivitis yang diderita.

 

Untuk menghindari penyebaran konjungtivitis, perlu dilakukan tindakan seperti:

  1. Jangan menyentuh mata dengan tangan;
  2. Cuci tangan seserring mungkin;
  3. Gunakan handuk dan kain pembersih muka yang bersih setiap hari;
  4. Jangan meminjamkan handuk atau kain pembersih muka;
  5. Gantilah sarung bantal lebih sering;
  6. Jangan menggunakan kosmetik untuk mata, misalnya mascara;
  7. Jangan meminjamkan kosmetik untuk mata atau peralatan mata pribadi kepada orang lain.

 

Pencegahan konjungtivitis pada bayi baru lahir juga perlu dilakukan. Mata bayi yang baru lahir sangat peka terhadap bakteri yang secara normal berada di dalam jalan lahir Ibu. Bakteri ini tidak menyebabkan gangguan kepada Ibu. Pada keadaan yang jarang terjadi, bakteri ini dapat menyebabkan konjungtivitis yang disebut sebagai Ophthalmia neonatorum, yang membutuhkan pengobatan dengan segera. Oleh karena itu, segera setelah dilahirkan, mata bayi diberikan salep mata Antibiotika untuk mencegah infeksi mata.

 
KONJUNGTIVITIS Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Konjungtivitis adalah suatu peradangan atau infeksi selaput transparan yang berada di permukaan dalam kelopak mata dan yang mengelilingi bola mata bagian luar. Bila pembuluh darah halus yang berada dalam konjunctiva meradang, maka pembuluh darah ini akan nampak. Itulah sebabnya mengapa bola mata yang berwarna putih menunjukkan warna merah (mata merah). Meskipun mata merah ini mengalami iritasi, hal ini jarang mempengaruhi penglihatan. Pengobatan yang diberikan dapat menghilangkan rasa tidak nyaman pada mata merah ini. Oleh karena mata merah ini dapat menular kepada mata orang lain, maka diagnosis dini dan pengobatan dapat mengurangi penyebaran mata merah. Mata merah dapat disebabkan oleh adanya infeksi dengan virus, bakteri, zat kimia, benda asing atau reaksi alergi. Orang yang memakai lensa kontak harus berhenti memakainya segera setelah menunjukkan  gejala awal mata merah ini.

GEJALA

Mata merah memperlihatkan adanya:

  1. Kemerahan pada satu mata atau kedua mata;
  2. Rasa gatal pada satu mata atau kedua mata;
  3. Rasa mengganjal pada satu mata atau kedua mata;
  4. Pengeluaran kotoran mata dari satu mata atau kedua mata yang dapat membentuk kerak pada malam hari sehingga pada pagi pagi hari kelopak mata tidak dapat dibuka;
  5. Pengeluaran air mata;
  6. Reflex pupil (anak mata) masih normal;
  7. Ketajaman penglihatan masih normal.

 

Mata merah harus segera diobati. Mata merah dapat menular kepada orang lain selama 2 minggu setelah dimulai adanya gejala-gejala. Diagnosis dini dan pengobatan secepatnya dapat melindungi penularan terhadap orang lain.

PENYEBAB

Penyebab mata merah adalah:

  • Virus,
  • Bakteri,
  • Alergi,
  • Zat Kimia,
  • Benda asing,
  • Saluran air mata yang tersumbat (pada bayi baru lahir).

 

Konjungtivitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri dapat menyerang satu atau dua mata sekaligus. Konjungtivitis virus biasanya menghasilkan kotoran mata yang berbentuk cair. Konjungtivitis bakteri sering menghasilkan kotoran mata yang lebih kental dan berwarna kuning kehijauan.

Kedua jenis konjungtivitis ini dapat terjadi bersamaan dengan flu atau dengan gejala saluran pennafasan, seperti nyeri tenggorokan. Kedua konjungtivitis ini sangat menular. Penyakit ini menyebar secara langsung atau tidak langsung setelah bersentuhan dengan kotoran mata penderita. Penyakit ini dapat menyerang segala usia, baik anak-anak maupun dewasa. Namun konjungtivitis bakteri lebih sering terjadi pada penderita anak-anak.

Konjuntivitis yang disebabkan oleh alergi dapat mengenai kedua mata sebagai respon adanya reaksi alergi terhadap serbuk sari bunga. Sebagai respon terhadap benda penyebab alergi (alergen), tubuh akan membentuk zat kekebalan (antibodi) yang disebut sebagai Imunoglobulin E (IgE). Zat kekebalan ini akan merangsang sel yang ada dalam selaput lendir mata dan saluran nafas untuk melepaskan zat penyebab peradangan termasuk zat Histamin.

Bila terdapat keadaan konjungtivitis alergi, maka akan timbul gejala rasa gatal, pengeluaran air mata, mata yang meradang, bersin dan hidung berlendir pada penderita. Pada umumnya, konjungtivitis alergi dapat diatasi dengan pemberian obat tetes mata yang mengandung obat anti alergi.

Bagi konjungtivitis akibat iritasi, biasanya disebabkan oleh zat kimia atau benda asing (debu, dan lain-lain). Usaha untuk membersihkan benda asing atau zat kimia ini menyebabkan mata menjadi merah dan mengalami iritasi. Keadaan ini memberikan gejala pengeluaran air mata, yang biasanya akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu 1 hari.

Faktor-faktor resiko terjadinya konjungtivitis, antara lain:

  1. Bersentuhan dengan benda yang menyebabkan alergi;
  2. Bersentuhan dengan penderita konjungtivitis virus dan bakteri;
  3. Mengunakan lensa kontak, sehingga mata dapat memberikan reaksi peradangan mata.

 

PENGOBATAN

Anjuran yang mesti dilakukan sebelum berobat ke dokter:

  1. Stop menggunakan lensa kontak;
  2. Cuci tangan sesering mungkin untuk mengurangi kemungkinan penularan kepada orang lain;
  3. Jangan meminjamkan handuk kepada orang lain.

 

Pengobatan Konjungtivitis Virus

Tidak ada obat khusus untuk mengatasi keadaan ini. Penyakit ini sering dimulai dari satu mata dan menyebar ke mata yang lain dalam beberapa hari. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya secara berangsur-angsur. Pemberian obat anti virus mungkin diberikan oleh dokter bila ternyata diketahui penyakit ini disebabkan oleh Herpes zoster virus.

Pengobatan Konjungtivitis Bakteri

Bila penyakit ini disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan pengobatan tetes mata yang mengandung antibiotika. Infeksi akan sembuh dalam beberapa hari. Salep mata antibiotika biasanya diberikan untuk penderita anak-anak. Pemberian Salep mata lebih mudah diberikan kepada anak-anak dari pada pemberian tetes mata. Meskipun demikian, pemberian salep mata akan membuat penglihatan kabur selama 20 menit setelah diberikan.

Pengobatan Konjungtivitis Zat Kimia

Keadaan ini diatasi dengan  pencucian pada larutan larutan ringer laktat atau cairan Garam fisiologis (NaCl 0,8%). Luka karena zat kimia, terutama akibat bahan Alkali, merupakan keadaan gawat darurat karena dapat menimbulkan kecacatan mata dan kerusakan di dalam bola mata. Penderita dengan konjungtivitis zat kimia ini tidak boleh menyentuh mata yang sakit karena dikhawatirkan dapat menyebar ke mata yang lainnya.

Pengobatan Konjungtivitis Alergi

Pada keadaan ini, dapat diberikan bermacam obat untuk mengatasi keadaan alergi penderita, termasuk pemberian obat seperti tablet Anti Histamin, obat untuk mengatasi kedaan peradangan seperti Decongestan, obat steroid dan tetes mata yang mengandung anti peradangan. Penyakit dapat diredakan dengan menghindari penyebab keadaan alergi, bila memungkinkan dan diketahui penyebabnya.

Untuk mengurangi gejala konjungtivitis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan di rumah, seperti:

  1. Berikan kompres kepada mata dengan menggunakan kain bersih yang telah dibasahi dengan air bersih. Bila terdapat mata merah pada satu mata, jangan pergunakan kain itu untuk mengompres mata yang lainnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran mata merah.
  2. Cobalah obat tetes mata. Obat tetes mata yang dijual di toko farmasi (yang disebut tetes mata buatan) dapat mengurangi gejala mata merah. Beberapa tetes mata mengandung Anti histamin atau zat lain yang dapat membantu keadaan konjungtivitis akibat alergi.
  3. Hentikan penggunaan lensa kontak. Bila menggunakan lensa kontak, maka berhentilah dahulu memakainya sebelum mata terasa nyaman kembali. Waktu yang diperlukan untuk melepas lensa konak ini tergantung dari penyebab konjungtivitis yang diderita.

 

Untuk menghindari penyebaran konjungtivitis, perlu dilakukan tindakan seperti:

  1. Jangan menyentuh mata dengan tangan;
  2. Cuci tangan seserring mungkin;
  3. Gunakan handuk dan kain pembersih muka yang bersih setiap hari;
  4. Jangan meminjamkan handuk atau kain pembersih muka;
  5. Gantilah sarung bantal lebih sering;
  6. Jangan menggunakan kosmetik untuk mata, misalnya mascara;
  7. Jangan meminjamkan kosmetik untuk mata atau peralatan mata pribadi kepada orang lain.

 

Pencegahan konjungtivitis pada bayi baru lahir juga perlu dilakukan. Mata bayi yang baru lahir sangat peka terhadap bakteri yang secara normal berada di dalam jalan lahir Ibu. Bakteri ini tidak menyebabkan gangguan kepada Ibu. Pada keadaan yang jarang terjadi, bakteri ini dapat menyebabkan konjungtivitis yang disebut sebagai Ophthalmia neonatorum, yang membutuhkan pengobatan dengan segera. Oleh karena itu, segera setelah dilahirkan, mata bayi diberikan salep mata Antibiotika untuk mencegah infeksi mata.

 
Bercak Titik-Titik Hitam (Floaters) dan Kilatan Cahaya (Flashes) di Mata Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

  
 Kilatan Cahaya (Flashes) dan Titik-Titik Hitam (Floaters) pada Mata

 


Flashes dan Floaters adalah salah satu gelaja kelainan di mata, letaknya di dalam rongga bola mata yang disebut vitreous (badan kaca) dan retina (syaraf mata).

 

“Floaters” yaitu pasien merasakan didalam mata ada benda hitam melayang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran, akan terlihat jelas apabila memandang bidang yang bersih dan terang, misalnya di dinding putih.

 

“Flashes” yaitu pasien merasakan adanya kilatan cahaya didalam mata atau disebut Photopsia, dan akan lebih sering dilihat di malam hari atau di ruangan gelap.

 

Bola mata manusia bagian dalam dilapisi lapisan tipis yang disebut Retina  atau lapisan serabut syaraf mata, lapisan tipis ini sangat peka terhadap cahaya berfungsi menangkap bayangan yang masuk ke dalam mata dan diteruskan  ke bagian otak tertentu dan akan diterjemahkan sebagai benda yang dilihat .


Rongga bola mata tersebut diatas berisi seperti jelly / agar-agar jernih disebut vitreous atau badan kaca, berfungsi sebagai media refrakta yang menghantarkan cahaya masuk dari kornea ke makula di retina.

 

Apa yang menyebabkan Floaters dan Flashes ?

Floater bisa terjadi karena Vitreous mengalami degenerasi atau penuan yaitu terjadinya pencairan vitreous atau badan kaca, umumnya terjadi pada pasien umur diatas 55 tahun, akan tetapi dapat juga terjadi pada pasien umur muda, yaitu pada penderita myopia, pernah operasi mata atau pernah dilakukan laser retina dan kasus-kasus retina lainnya.

Pada waktu  Vitreous mencair ada yang menebal dan ada yang mengkerut, hal ini yang dapat mengakibatkan terlepasnya vitreous dari retina, proses ini disebut Posterior Vitreous Detachment (PVD). Bagian vitreous yang terlepas ini terlihat pasien sebagai benda melayang-layang yang kemudian disebut Floaters.

Flashes atau kilatan cahaya, terjadi karena pergesekan cairan vitreous atau tertariknya lapisan retina. Kejadian ini tidak menimbulkan rasa sakit, dapat terjadi selama beberapa hari, bahkan minggu terkadang berbulan-bulan.

 

Apa yang harus dilakukan jika mengalami Flashes atau Floaters?

Flashes dan floaters umumnya tidak berbahaya, tetapi ini ada kemungkinan menunjukkan  kondisi serius dari retina seperti : penipisan retina, ablasio atau lepasnya retina, perdarahan vitreous, dll. 

Floaters dan Flashes sebagian besar tidak perlu diobati, kecuali jika dalam pemeriksaan ada gejala robekan retina.  Oleh karena itu jika saudara mendapatkan adanya  gejala tersebut segera diperiksakan untuk memastikan apakan kondisi mata berbahaya atau tidak.


Visitech Eye CentreVisitech Eye CentreVisitech Eye Centre

Bagaimana terjadi retina robek?

Perlekatan vitreous dan retina dapat terlepas sewaktu-waktu, lokasi yang paling sering terjadi pelepasan di bagian belakang bola mata. Ada kalanya perlekatan antara vitreous dan retina sangat kuat dibagian tertentu sehingga bagian vitreous yang terlepas dapat tertarik ke bagian yang melekat erat, sehingga terjadilah robekan retina

 

Bagaimana terjadinya ablasio retina atau terlepasnya retina?

Proses lepasnya retina dari perlekatannya seperti kertas wall paper terkelupas dari dinding. Pada umumnya diawali dengan adanya robekan retina, kemudian diikuti dengan masuknya cairan melalui robekan tersebut menyusup antara retina dan bola mata yang mengakibatkan terlepasnya retina. Retina yang terlepas ini dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan permanet.

 

Tindakan untuk menangani  Retina Robek

Dengan melekatkan kembali retina robek dengan alat “Laser Photokoagulasi” (proses pemanasan) atau” Cryopexy” (proses pembekuan),  disekeliling retina robek. Tindakan diatas bertujuan membuat  jaringan parut atau sikatrik antara retina robek dengan jaringan dibawahnya, sehingga dapat  mencegah terjadinya rembesan cairan vitreous ke bagian bawah retina dengan demikian mencegah ablasi retina.

Tindakan ini sangat efektif (95%) dalam mencegah ablasi retina. Tindakan Laser Photokoagulasi dapat dilakukan rawat jalan.
 
Visitech Eye CentreVisitech Eye CentreVisitech Eye Centre

Faktor Resiko Ablasio Retina

·         Miopia (Rabun Jauh) Tinggi

·         Trauma Mata

·         Ada Riwayat Keluarga dengan Ablasio retina

·         Pernah mengalami Operasi Mata

·         Dijumpai adanya Penipisan Retina sewaktu diperiksa dokter mata

 

Menegakan Diagnosa Robekan Retina dan Ablasio Retina

Dokter Mata  akan memeriksa  mata pasien dengan alat Direk Ofthalmoskope, atau Indirek Ofthalmoskopi atau lensa khusus dengan Lensa Biomikroskop , yaitu Lensa dan lampu khusus.  Sebelum dilakukan tindakan ini mata terkadang mata akan ditetesi dengan obat tetes mata midiatikum yang ber tujuan untuk melebarkan manik mata, sehingga akan memudahkan dokter memeriksa  keadaan mata bagian dalam semaksimal mungkin.  Setelah pemakaian obat tetes mata tersebut, terkadang pasien masih merasakan silau untuk beberapa saat kurang lebih 1-2 jam.

 Apa yang harus dilakukan jika mata seseorang dijumpai Ablasi / Lepasnya Retina?
Setelah retina terlepas, harus segera ditempelkan kembali, dengan operasi. Apabila operasi dilakukan lebih awal, hasilnya umumnya cukup baik dengan keuntungan yang signifikan dalam penglihatannya. Penundaan dalam operasi menurunkan kemungkinan keberhasilan dan penglihatan diperoleh juga terbatas.

 

Jenis Operasi Ablasi Retina

Ada beberapa macam tindakan operasi Ablasi, pemilihan jenis operasi dan anestesi (lokal atau umum) tergantung pada berat ringannya kasus ablasi retina.

Lokasi retina yang lepas atau Ablasi, harus ditentukan terlebih dahulu kemudian dilakukan Laser photokoagulasi (pemanasan), atau Cryopexy (pembekuan) untuk menutup robekan. Adakalanya dimasukkan gelembung udara atau gas tertentu ke dalam bola mata untuk membantu mendorong retina yang terlepas agar menempel ke tempatnya di dinding bola mata.

1.     Scleral Buckle.

Sabuk silikon dipasang melingkar bola mata dengan tujuan membentuk lekukan kedalam pada dinding bola mata sehingga bisa menutupi rongga yang terjadi akibat robekan retina.

2.    Vitrektomi

Merupakan tindakan pengeluaran cairan vitreous kemudian diganti dengan gas khusus atau diberikan minyak silikon. Secara perlahan-lahan gas tersebut akan diserap dan digantikan kembali dengan cairan yang diproduksi oleh mata sendiri. Terkadang Vitrektomi dilakukan bersamaan dengan Scleral Buckle.

 

Apakah Penglihatan Membaik

Diperlukan beberapa bulan untuk perbaikan tajam penglihatan, tetapi beberapa kasus ada yang penglihatan tidak bisa kembali normal, atau bahkan tetap tidak bisa meli9hat kembali.

 

Bagaimana jika tidak dioperasi

Retina lepas maka tidak dapat berfungsi, sehingga saudara akan kehilangan penglihatan atau menjadi buta.

 

Apa yang sebaikannya dilakukan

Jika Saudara mengalami Gejala – gejala Ablasi retina segera periksakan ke dokter mata untuk mendapatkan pengobatan sedini mungkin.

Jika Saudara berisiko terjadi Ablasio Retina, sebaiknya periksa mata rutin secara teratur.


Jika anda mengalami gejala & tanda diatas 
Hubungi Klinik Vitreo Retina RS Mata "Dr. Yap" Yogyakarta
Setiap Senin, Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu
Pendaftaran Pasien :
Telp : 0274-544744 ext 102/109 atau 088802811256/57
 
Informasi Lebih lanjut :
Seksi Hukum dan Humas
Telp : 0274-544744 ext 200 atau 081392628118-088802811255
Email : Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya
Yahoo Messenger : Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya
Facebook : Humas Rsmyap
 
EKSOFTALMUS Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

EKSOFTALMOS

 (Penonjolan Bola Mata Abnormal)

 

Eksoftalmos adalah penonjolan abnormal bola mata (protusi bulbi).

PENYEBAB
Penyebab Eksoftalmos bermacam –macam antara lain :

  • Penyakit gangguan kelenjar gondok atau thyroid disebut Grave Disease atau Grave Ofthalmopahy (Setiap tahun diperkirakan terdapat 5-6 penderita Grave diantara 100.000 penduduk dan 2/3 nya dengan eksofthalmos). Terjadi penonjolan ke dua bola mata karena ada pembengkaan (hipertrophi) otot penggerak bola mata sehingga mendorong bolamata ke depan.

Gejala lain mata eksofthalmos :

  •  Perdarahan di belakang bola mata (diruang orbita mata) akibat dari trauma
  •  Peradangan di dalam rongga mata
  • Tumor jinak maupun ganas di dalam rongga mata dan di belakang bola mata
  • Pseudotumor (adanya penonjolan bola mata karena adanya inflamasi / peradangan jaringan disekitar bola mata sehingga mendorong bola mata kedepan
  • Kelainan pembuluh darah misalnya Trombosis sinus kavernosus  dan  Malformasi arteriovenosa.

GEJALA
Salah satu atau kedua bola mata tampak menonjol keluar.

PEMERIKSAAN & PENEGAKAN DIAGNOSA

Dijumpai adanya penonjolan bola mata, dan diukur dengan penggaris biasa atau dengan alat yang disebut ofthalmometer Hertel. Setiap mata yang menonjol tidak selalu eksofthalmos.

Pemeriksaan lainnya dilakukan adalah Foto Ro Orbita, CT) Scan Orbita, MRI Jaringan Orbita dan Pemeriksaan Laboratorium tes fungsi thyoid, (dengan diperiksa T3, T4 dan TSH)

PENGOBATAN
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya, misalnya :

  1. Jika terdapat kelainan pada arteri dan vena seperti Trombosis sinus kavernosus dan Malformasi arteriovenosa maka jika diperlukan bisa dilakukan pembedahan.
  2. Apabila dijumpai adanya tumor dibelakang bola mata akan dilakukan tindakan tergantung jenis atau tipe tumor, termasuk dilakukan khemotherapy, radiotherapy dan pembedahan 
  3. Jika penyebabnya adalah ganguan thyroid seperti Grave Disease dilakukan terapi:

·   Bersama dengan dokter penyakit Dalam bagian Sub spesialis Endokrinologi dengan pengobatan hormonal untuk thyroidnya.

·       Menghilangkan kebiasaan merokok karena perokok 8 kali lebih besar menderita Grave ofthalmopathy.

·       Untuk mengurangi rasasakit dan penekanan terhadap jaringan sekitar terutama saraf optikus, diberikan anti inflamasi digunakan Corticosteroid, dengan efek samping berat badan naik, insomnia (sulit tidur), osteoporosis (tulang keropos), dan tukak lambung.

·       Dilakukan Radioterapy Orbital, apabila Corticosteroid tidak mempunyai efek dan kondisi pasien semakin buruk. Juga bisa tetap dilakukan dengan terapi kombinasi dengan Corticosteroid.

·    Jika kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata yang menonjol, mungkin perlu dilakukan penjahitan antara kelopak mata atas dan bawah untuk membantu melindungi kornea terhadap kekeringan dan infeksi.

·   Pembedahan dilakukan apabila kelaiana anatomi mata sudah menetap atau permanet, dan menimbuklan gejala lain seperti penglihatan ganda (double), atau mata tidak bisa menutup sehingga terjadi kerusakan kornea menetap (permanet).

·     Jika pengobatan hormonal telah selesai atau dinyatakan telah normal, tetapi bola mata tetap menonjol keluar karena jaringan otot sudah tidak mengecil kembali karena sudah terjadi kerusakan otot (hipretrofi otot) maka untuk melindungi kornea dapat dilakukan pembedahan dengan mengurangi volume otot.

·  Pada kasus berat, yaitu apabila bola mata tetap menonjol keluar setelah pengobatan maka akan dilakukan pembedahan yang disebut Dekompresi Orbita, dengan cara menghilangkan sebagian tulang dasar orbita dan beberapa lemak dalam rongga orbita, umumnya dipakai sebagi terapi kosmetik atau mememperbaiki penampilan.

4. Untuk mengatasi pseudotumor diberikan pengobatan antinflamasi untuk mengurangi pembengkakan. Jika tumor membahayakan mata karena mendorongnya keluar, maka dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor.

 

KOMPLIKASI EKSOFTHALMOS

Komplikasi eksofthalmos karena kelopak mata tidak dapat menutup dengan baik dapat  terjadi kerusakan kornea dan konjungtivitis .

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 5 dari 12
Advertisement
Advertisement
Konsultasi
Komentar Pengunjung
Komentar terbaru dari pengunjung :
Pemberitahuan (18 komentar) Saturday, 21 October 2017
“Dr. Yap” Eye Hospital Yogyakarta Awarded The Runner Up Predicate In The PERSI AWARDS-IHMA 2013 (5 komentar) Saturday, 21 October 2017
Pendaftaran Pasien (384 komentar) Thursday, 19 October 2017
PEMBERITAHUAN (22 komentar) Wednesday, 18 October 2017
KUNJUNGAN RSKG TEJA HUSADA MALANG (51 komentar) Sunday, 15 October 2017
PENANDATANGANAN KERJASAMA (5 komentar) Saturday, 14 October 2017
Pelatihan "Be Smart Frontliners" (3 komentar) Saturday, 14 October 2017
© 2017 Rumah Sakit Mata Dr. Yap
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.